Selasa, 25 Maret 2014

BPMPD Jawa Barat gelar Talkshow di Bandung TV

   
      Bandung (18/12). Memperkuat sosialisasi hasil pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan, BPMPD provinsi Jawa Barat menggelar live on air di Bandung Televisi. Talkshow yang tayang dalam program dialog khusus sore pukul 16.30 itu menghadirkan tiga narasumber yaitu Nurtafiyana selaku PJOprovinsi, Sugih Arto Koordinator Provinsi dan Rieswan Graha kepala BPMDPKB Kab. Majalengka.
    Talkshow juga menghadirkan puluhan pelaku PNPM Mandiri Perdesaan dari kec.Sukahaji Kab. Majalengka. Acara yang dipandu presenter Farah Mumtaz itu berlangsung seru. Pada sesion awal, Nurtafiyana menyampaikan positioning PNPM Mandiri Perdesaan terhadap pengurangan kemiskinan baik ditingkat lokal maupuan regional.
   
“hadirnya  PNPM di 422 kecamatan, di lebih dari 4200 desa dipastikan ikut mempercepat penanggulangan kemiskinan,” ujar Firman, panggilan akrab PJOprovinsi itu. “dibidang perguliran saja, tidak kurang dari Rp. 900 milyar beredar di tengah masyarakat dengan jumlah penerima manfaat lebih dari 100 ribu kelompok,” ujar alumni Unpad itu
   Rieswan Graha mempertegas pengaruh PNPM Mandiri Perdesaan terhadap pengurangan kemiskinan. Menurutnya, pelaksanaan di Majalengka cukup berhasil. “berdasar catatan kami, saat ini tidak kurang dari 4000 kelompok penerima manfaat program simpan pinjam,” ujarnya. “Kalau dihitung, selama PNPM Mandiri Perdesaan hadir di Majalengka, tidak kurang dari 45 ribu warga meningkat dari keadaan sebelumnya yang miskin,” imbuhnya.
   Sementara itu, Sugih Arto menyampaikan prakaras PNPM Mandiri Perdesaan dalam perencanaan partisipatif harus dilestarikan masyarakat perdesaan. Menurutnya, aset terbesar yang dimiliki oleh masyarakat adalah pengetahuan dalam tata perencanaan pembangunan yang bottom up. “ yang penting dipikirkan oleh masyarakat adalah komitmen untuk merencanakan, melaksanakan dan melestarikan pembangunan secara mandiri,” tegasnya.
  Ditambahkan olehnya, PNPM Mandiri Perdsaan sangat peduli terhadap keberadaan pelaku di desa. Selama, kurun waktu 1998-2013 di Jawa Barat telah terpilih dan terlatih pelaku yang diharapkan menjadi penerus prakarsa PNPM Mandiri Perdesaan. “Berdasar catatan, tidak kurang dari 65 ribu orang saat ini menjadi aktor pembangunan desa yang cukup terlatih, apakah dari unsur KPMD, PL, UPK, Tim Verifikasi, BKAD dan kelembagaan lain yang dibentuk oleh PNPM,” katanya.
    Acara yang berlangsung satu jam tersebut juga diwarnai pertanyaan dari peserta di studio. Imam, anggota masyarakat menanyakan bagaimana kelanjutan PNPM MandirI Perdesaan paska tahun 2014 yang dikabarkan menjadi tahun terakhir. Menjawab pertanyaan itu, tiga narasumber kompak menegaskan bahwa yang terpenting adalah pelestarian prakarsa pembangunan yang partisipatif dengan prinsip transparan dan berpihak pada orang miskin.
   Pada sesi terakhir, Rieswan Graha menyampaikan peran PNPM Mandiri Perdesaan di Majalengka dalam memberdayakan produk usaha kelompok SPP/UEP. “kita tahu, banyak hasil usaha seperti kerajinan, makanan ringan, mebeler, anyaman dan produk kreatif dari desa. Mereka membutuhkan dukungan pemasaran yang lebih luas,” ujarnya. “untuk itu, pembuatan gerai sebagai bangunan display produk tersebut akan menjadi terobosan,” imbuhnya.

    Senada dengan pernyataan tersebut, Sugih Arto menyatakan apresiasi terhadap dukungan pemerintah provinsi yang membantuk pembuatan gerai di kabupaten lokasi PNPM Mandiri Perdesaan di Jawa Barat. “program pembuatan gerai sangat strategis dalam pengembangan ekonomi di perdesaan,” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar