Kamis, 26 Juni 2014

Rumah Layak Huni sebagai Solusi Kehidupan Lansia

Kuswan SP (FK Cikalong-Tasikmalaya)    
   
Di Kecamatan Cikalong, perhatian terhadap lansia dengan memanfaatkan dana surplus UPK juga pernah dilakukan melalui pembagian sembako (kebutuhan pangan). Hanya saja, kegiatan-kegiatan sosial seperti bantuan sembako tersebut dirasa kurang memenuhi prinsip keberlanjutan yang merupakan prinsip pokok PNPM. Pembagian sembako terkesan ‘sehari habis’ dan peningkatan kualitas hidup si lansia penerima manfaat kurang begitu terlihat signifikan. Oleh sebab itu, pemanfaatan dana sosial untuk lansia tidak mampu tahun ini difokuskan pada bantuan sandang dan papan yang setidaknya ‘lebih awet’.
   Aki-aki dan nini-nini atau para lanjut usia (lansia) sering mendapat stigma negatif sebagai orang yang sering menderita penyakit “B” seperti batuk, bongkok, boson (sulit menahan buang angin), bengék (sesak napas), budug (penyakit kulit), boyot (lemah fisik), begang (kurus keriput) dan penyakit-penyakit “B” lainnya. Hal tersebut memang tidak bisa disangkal karena memang banyak menimpa para lansia. 
   
   
Selain masalah biologis, lansia juga sering mengalami persoalan psikologik dan sosial akibat kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuannya yang semula dimiliki serta berkurangnya peran di masyarakat. Hal ini pun berpengaruh pada kemandirian, produktifitas dan inisiatif para lanjut usia. Meskipun demikian, bukan berarti dengan usianya yang senja menjadikan mereka lemah segala-galanya sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk benkontribusi pada pembangunan bangsa. 
   Persoalan-persoalan terkait lansia juga tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya. Tak sedikit lansia yang seolah tersisihkan dari kehidupan sosial dengan kualitas hidup yang relatif rendah. Mulai dari sandang, pangan dan papan yang terkesan seadanya sampai adanya persoalan rasa ‘kesepian’karena sudah tidak memiliki kerabat atau jauh dengan keluarganya. 
   Kegiatan PNPM-MP secara tidak langsung sedikit banyaknya ikut membantu menjawab persoalan tersebut dengan diberinya ruang partisipasi untuk tetap dapat berperan serta dalam pembangunan dan tetap produktif sesuai dengan amanat peraturan perundangan. Tidak sedikit pemandangan di desa yang menggambarkan pewarisan nilai-nilai gotong royong yang masih sangat melekat pada lansia dengan masih ikut sertanya lansia dalam kegiatan kerja bakti, baik saat pelaksanaan pembangunan prasarana maupun saat kegiatan pemeliharaan. 
  Lansia yang banyak tergolong miskin juga sering masih aktif dalam banyak kegiatan-kegiatan rapat/musyawarah PNPM-MPd yang juga dimanfaatkan untuk dijadikan ruang-ruang interaksi sosial, baik dengan sesama lansia maupun dengan masyarakat luas Adanya momentum Hari lansia pada bulan Mei lalu, juga menginspirasi pelaku PNPM-MPd di Kecamatan Cikalong untuk menunjukan kepedulian kepada para lansia. 
   Dengan memanfaatkan alokasi anggaran bantuan langsung Rumah Tangga Miskin hasil surplus Unit Pengelola Kegiatan (UPK) hasil pengelolaan SPP Tahun 2013, bantuan tersebut dialokasikan. Sebelumnya, tercatat salah satu hasil pengelolaan ekonomi bergulir oleh UPK Cikalong berhasil membukukan laba kotor sebesar Rp 925.393.089. Dari surplus tersebut, melalui musyawarah antar desa, dari angka surplus tersebut disepakati untuk dialokasikan sebagai bantuan langsung rumah tangga miskin sebesar Rp 169.000.000. Alokasi dana yang digunakan untuk bantuan lansia kurang mampu dari anggaran tersebut mencapai Rp 57.025.000,- dengan jenis kegiatan seperti yang tercantum dalam tabel:
Desa
Kegiatan
Pemanfaat (orang)
Anggaran  (Rp)
Cikancra
Rumah Tidak Layak Huni
4
           13,000,000
Mandalajaya
Rumah Tidak Layak Huni
4
           13,000,000
Sindangjaya
Bantuan Sandang
78
              8,450,000
Singkir
Bantuan Sandang
128
              9,600,000
Kubangsari
Bantuan Sandang
22
              1,675,000
Cidadali
Bantuan Sandang
143
           11,300,000
Jumlah
379
           57,025,000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar